Rabu, 30 April 2014

PENDIDIKAN INKLUSIF SEBAGAI SISTEM PENDIDIKAN SEKOLAH RAMAH ANAK



Seiring perkembangan zaman, pengetahuan manusia akan terus berkembang, pandangan pun akan berubah. Ditinjau dari hak warga Negara Indonesia yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 27 ayat 2, menyatakan bahwa: tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Dan UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB IV pasal 5 ayat (1) dan (2), yaitu (1) setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, (2) warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Dengan ini, berhasil membuka pemikiran tentang menyelamatkan kehidupan anak berkebutuhan khusus.

Ganda Sumekar (2009:3) berpendapat bahwa :
   Anak Berkebutuhan khusus (ABK) ialah anak-anak yang mengalami penyimpangan,  kelainan, atau ketunaan dalam segi fisik, mental, emosi, dan sosial, atau gabungan dari hal-hal tersebut sedemikian rupa sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan yang khusus, yang disesuaikan dengan penyimpangan, kelainan, atau ketunaan mereka.

Hal ini menjelaskan bahwa ABK memerlukan pelayanan pendidikan khusus untuk mengembangkan kemampuan dan potensi mereka. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang sedang dihangatkan dengan Pendidikan Inklusif. Pendidikan yang memahami karakteristik setiap anak guna untuk memperbaiki mutu pendidikan.
Menurut Sapon-Shevin dalam O’Neil (1994) “pendidikan Inklusif adalah suatu sistem layanan pendidikan yang mengisyaratkan kepada anak yang berkebutuhan khusus untuk belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman yang seusianya.”
            Dengan adanya pendidikan inklusif, ABK dapat memperoleh akses dan kesempatan untuk memperoleh pendidikan secara bersama-sama dengan anak normal lainnya. Pendidikan ini memperhatikan keberagaman, tidak adanya diskriminasi. Namun, perlu diketahui bahwa pendidikan inklusif bukan berkonsep bahwa anak berkebutuhan khusus berada di tengah-tengah anak normal, tetapi layanan pendidikan ini berorientasi dalam rangka memenuhi kebutuhan setiap anak dengan keunikan atau keberagaman.
            Keberhasilan pendidikan inklusif tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, baik dari dukungan masyarakat, guru, orang tua, pemerintah, dan lain sebagainya. Dalam pendidikan inklusif ini, pengajaran akan disesuaikan dengan kurikulum kemampuan dan gaya belajar setiap anak, sehingga membutuhkan guru khusus dalam membantu anak berkebutuhan khusus di sekolah umum, seperti guru GPK (Guru Pendamping Khusus).
Menurut Skjorten (dalam Pengantar Pendidikan Inklusif:2003), GPK berfungsi untuk mendampingi guru kelas dalam menyiapkan kegiatan yang berkaitan dengan materi belajar, mendampingi anak berkebutuhan khusus dalam menyelesaikan tugasnya dengan pemberian instruksi yang singkat dan jelas, memilih dan melibatkan teman seumur untuk kegiatan sosialisasinya, menyusun kegiatan yang dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas, mempersiapkan anak berkebutuhan khusus pada kondisi rutinitas yang berubah positif, menekankan keberhasilan anak berkebutuhan khusus dan pemberian reward yang sesuai dengan pemberian konsekwensi terhadap perilaku yang tidak sesuai, meminimalisasi kegagalan anak berkebutuhan khusus, memberikan pengajaran yang menyenangkan kepada anak berkebutuhan khusus, menjalankan Program Pembelajaran Individual (PPI).

Dengan tatacara pelaksanaan sistem pendidikan inklusif yang baik, anak berkebutuhan khusus akan mempunyai hak kesamaan dalam memperoleh pendidikan dengan anak normal tanpa harus terdiskriminasi. Sehingga dapat membantu mewujudkan sekolah ramah anak, dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Daftar Pustaka :
Lestari, Dewi. 2013. “Tugas dan Peran Guru Pendamping (Shadow Teacher)”. Blogger.com (anakabk.wordpress.com/2013/03/20/tugas-dan-peran-guru-pendamping-shadow-teacher/). Diakses 30 April 2014.
Sumekar, Ganda. 2009. Anak Berkebutuhan Khusus. UNP Press: Padang.
Syamsir, 2009. Pendidikan Kewarganegaraan. AKBID Yayasan “Ranah Minang”: Padang.





Jumat, 11 April 2014

Thanks for "Beautiful Fireflies"


Satnite kembali hadir. Hari dimana para jomblo akan berdo'a agar hujan lebat segera turun. Bagiku ini hari yang sama saja dengan hari biasanya.
Tapi.. kali ini, aku punya cerita di malam satnite. aku jadi tak pernah kehabisan cerita saat aku mengenal dia, someone special serta mereka teman baru. bisa dikatakan merekalah yang membuatku akhir-akhir ini jadi semangat untuk menulis.
Malam ini udara sangat sejuk, sama seperti malam sebelumnya. aku dan dia berjalan melewati gang kecil, menelusuri setapak demi setapak berjalan menuju arah kampus.
Sepulang dari kampus, kami mencari kunang-kunang, aku menyukai serangga ini, walaupun aku pernah mendengar mitos penjelmaan lucifer yang ada di kunang-kunang. Tapi, ini hanya sekedar mitos, karena ternyata Lucifer ini bukanlah makhluk ataupun monster jahat, melainkan sebuah enzim yang disebut luciferase (berasal dari bahasa latin lux ferre), yang berarti pembawa cahaya. Serangga ini terlihat indah, gemerlip cahayanya membuatku jatuh hati. sedikit mengendap-endap disamping rerumputan. dan akhirnya.. taraaa..!! dia memberiku 5 ekor kunang-kunang, sangat indah. terimakasih :)

Pensil Milkita


Deadline hari ini padat. Pagi hari aku bersiap menuju kampus untuk mengambil surat observasi yang sebelumnya sudah diajukan. Tak mau mengundurkan waktu, aku memutuskan untuk mengantar surat observasi hari ini juga.

Kali ini aku pergi tak sendiri, bersama partner (Sita). Panggilan partner serasa sudah melekat dilidah. Haha. Awalnya, sebutan ini muncul karena mata kuliah Pengukuran Fisiologis, dosen menuntut memilih pasangan praktek untuk ujian nantinya.

Berjalan perlahan menuruni tangga, lalu mempercepat langkah menelusuri gang kecil. Matahari terik siang ini. Alis mengernyit bingung, kami tak tau alamat sekolah yang akan diobservasi. Di sepanjang perjalanan, kami menanyakan alamat pada siapapun yang terlihat. Setelah menemukan sekolah yang dituju, kami tampak lga, tapi tak sampai 5 menit, kembali tegang. Kepala sekolah tak mengizinkan ada observasi lagi, alasannya jadwal terlalu padat, “maaf ya nak.. coba cari sekolah lain dulu, sekolah ini sudah terlalu banyak jadwal yang melakukan penelitian”.

Namun ini tak membuat kami putus asa, meskipun sedikit merasa gondok. Masih ada pilihan lain, SDN Sukasari dan SDN Harapan. Di SDN Sukasari alasannya sama dengan SD yang pertama “terlalu banyak yang observasi, maaf nak” tak terbayangkan ekspresi Sita saat itu, haha. “Don’t cry Sita “ujarku mengejek. Ehehe

Satu SD masih tersisa, SDN Harapan. “ini benar-benar harapan kita Ta.. sesuai dengan namanya SDN Harapan” Sita mengangguk, tanda setuju. Berbincang lama dengan Kepala Sekolah, merasa keberatan sebenarnya, tapi.. Allah mendengar do’a kami hari ini, kami dizinkan. GREAT !!

Malam harinya Aku, Sita, Zakiah, Rahmad, dan Hariry menyiapkan buah tangan untuk berkunjung ke TK Miftahul Manan esok hari. Simple, tapi.. bisalah, lagipula kupikir ini lumayan menarik, manis dan cocok untuk diberikan anak usia 5 tahunan.
Semoga kalian menyukainya J

Semangat !! :D

w/partner Sita

umm.. nyami, cantik kan ?






Kamis, 03 April 2014

AUTOBIOGRAFI




Nama saya Nadhifah. Jenis kelamin perempuan. Saya dilahirkan di Banda Aceh 22 Oktober 1994. Anak kedua dari lima bersaudara, 1 kakak,  2 adik laki-laki, dan 1 adik perempuan.
Saya hidup dikeluarga yang sederhana. Ayah bernama Al Munzir dan Ibu bernama Hamidah, kedua orang tua berasal dari Takengon, Aceh Tengah. Meskipun orang tua berasal dari Aceh Tengah, kami tinggal di Banda Aceh, tepatnya di Jalan Cut Bak Beum Lr. Kedelai Ie Masen Ulee Kareng Banda Aceh. Kakak saya bernama Nadhrah, umur kami beda 2 tahun, sekarang ia kuliah di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, adik laki-laki saya bernama Imtiaz dan Kaysuna. Imtiaz  berumur 14 tahun, sedangkan Kaysuna berumur 10 tahun, dan seorang adik perempuan bernama Nasywa, berumur 4 tahun.
Hobi saya banyak, diantaranya membaca, mendengarkan musik, olahraga, menulis. Dalam membaca, saya sangat tertarik membaca buku yang membicarakan tentang fenomena-fenomena alam, karena dengan banyak membaca itu saya akan banyak tau tentang alam. Selain itu, buku yang mengkaji tentang Islam juga tak kalah menarik.
Cita-cita saya menjadi seorang guru, hal ini bisa dilihat saat berumur 5 tahun, saya selalu berperan menjadi seorang guru dalam permainan anak-anak. Ekspresi mereka sangat senang waktu itu.
Saya mulai menempuh pendidikan di TK Raudhatul Atfal tahun 1999, tahun 2000 melanjutkan pendidikan  di MIN Ulee Kareng Banda Aceh, tahun 2006 di MTsN Model Banda Aceh, lalu tahun 2009 di SMA Negeri 3 Banda Aceh. Pada masa SMP dan SMA, saya pernah mendapatkan prestasi olimpiade non akademik dalam bidang olahraga, yaitu tenis meja.
Tamat dari SMA saya melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu di Universitas Negeri Padang tahun 2012. Mengingat cita-cita di waktu kecil, orang tua menyarankan untuk memilih jurusan yang menjurus ke guru. Saya memutuskan untuk memilih jurusan Pendidikan Luar Biasa, karena orang tua saya mendalami bidang yang sama. Selain itu, adanya rasa ketertarikan terhadap anak berkebutuhan khusus, ditambah lagi keinginan untuk bisa mengembangkan keahlian khusus dalam mendidik anak berkebutuhan khusus di Aceh.
Di Padang, saya mempunyai banyak teman dari berbagai suku. Senang rasanya mengenal mereka. Oleh karena itu, saya dapat memahami berbagai bahasa daerah. Masa-masa kuliah terus berlangsung, sudah merasa nyaman di sana. Namun masuk semester ketiga, saya mendapat informasi tentang beasiswa dari Pemerintah Aceh, khusus untuk jurusan yang sama, yaitu pendidikan luar biasa di perguruan tinggi Universitas Pendidikan Indonesia. Saya sangat tertarik mengikuti beasiswa ini, orang tua sangat mendukung, dan akhirnya mengikuti tes. Sambil menunggu pengumuman, saya tetap melanjutkan perkuliahan di Universitas Negeri Padang. Dua bulan kemudian pengumuman pun keluar, berkat do’a dan usaha, saya diterima dalam program beasiswa tersebut.  Dan pada akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia.









Minggu, 16 Maret 2014

The first Experience of Futsal


Ini pertandingan futsal pertamaku, begitu juga dengan teman-temanku yang lain. Futsal ini kan biasanya dimainkan oleh laki-laki. Sedikit iseng sih, eh taunya ketagihan.

Aku dipercayai menjadi kapten disini, tapi tak menjadi bintang yang dipercayai untuk mempunyai peluang memasukkan bola ke jaring. Disini aku berperan sebagai penyerang dan memberi umpan. Awalnya, kami hanya sekedar latihan biasa, seperti tak ada niat untuk ikut mengikuti perlombaan. Dan ketika ada turnamen, aku sedikit memberanikan diri untuk mendaftar, seperti timbul keinginan untuk mendapat pengakuan bahwa tim kami ada.

Sore kamis, kami latihan. Menjelang turnamen, latihan agak dipadatkan. Tim kami terdiri dari 15  orang, saat turnamen yang turun ada 10 orang, dengan susunan pemain pertama, Zakiah sebagai penjaga gawang, aku dan Trya sebagai penyerang, Tia dan Miftah sebagai pertahanan. Tak mau tahu bagaimana cara kami bermain saat itu, yang jelas bola itu sampai di depan gawang, dan GOL.

Permainan terus berlangsung, benar-benar melelahkan. Lari ke sana ke mari, setelah bola tepat di depan kaki kemudian di tendang lagi, haha. Kalau dipikir, untuk apa ditendang setelah capek mengejar ? tapi itulah bola, nasibnya untuk ditendang.

Pertandingan pertama melawan angkatan 2011, tak ada yang menang, entah karena kami sama-sama kuat, atau malah sebaliknya. Peraturannya menggunakan sistem liga, kalah dapat poin 0, seri 1, dan kalau menang 3.

Pertandingan kedua, tim kami melawan angkatan 2010, dan great !! kami menang 2-0, dengan begitu poin kami menjadi 4. Hari sudah menjelang sore, pertandingan akan dilanjutkan besok. Bergegas pulang, mandi, lalu shalat.


***

Pagi hari, aku melangkahkan kaki ke lapangan futsal, sedikit mempercepat langkah. Hari ini kami bertanding melawan angkatan 2013 reguler dan 2012. Lumayan menegangkan, karena kedua angkatan ini bermain agak ganas, hehe. Dan alhasil 2013 reguler vs 2013 Aceh dapat score seri, sedangkan score melawan 2012 2-0.hadeh payah hehe.
Sampai pada akhirnya, kamilah sang juara. Juara kedua . :P



Pembagian Piala Kemenangan

Tim Futsal Pkh Aceh, jepret dulu :D

Piala Kemenangan :)





Minggu, 27 Oktober 2013

Saatnya Harus Ku Relakan


“Kebersamaaan”
Kata-kata itu, membuat aku takut dan teroma
Kata-kata itu, kini hanya menyisakan kenangan
Yang mendalam di dalam hati, pikiran dan jiwa ku

Tepat pada tanggal 12 Oktober 2013
Allah menunjukkan kekuasaann-Nya
Ya, di hari itu.. pada saat yang tak terduga
Kami mendengar kabar bahwa,
Gadis-gadis cantik itu diterima menjadi putri-putri  Plb Upi bandung

Sebelumnya selamat ya untuk kalian semua sahabat-sahabatku
Aku bersyukur ya Allah,
Engkau telah menunjukkan jalan terbaik untuk kami semua

Aku ikhlas ya Allah,
Melepaskan sayap-sayap indah itu dari sisiku
Aku rela ya Allah,
Menjalani hidup tanpa sebagian mereka lagi di sisiku
Karena aku sadar, aku sekarang berada di dunia nyata

Tapi ku mohon pada-Mu ya Allah
Tolong ingatkan mereka, ketika mereka lupa
Tolong ketuk hati mereka, ketika mereka lalai
Bahwa mereka pernah mempunyai
Sahabat, kakak, abang maupun
Teman-teman yang seatap dengan mereka
Dan tolong bisikkan ke telinga mereka
Kalau kami pernah merajut asa
Dan pernah menjalani kehidupan bersama
Agar mereka tidak akan pernah
Melupakan kenangan-kenangan itu

Sahabat-sahabat tercantik ku sedunia
Tia, ifeh, siska
Biarpun kita udah gak seatap lagi
Biarpun kita udah berjauhan
Biarpun kita udah gak tidur bareng lagi
Tapi, aku mohon bangeeet ma kalian,
Jangan pernah lupain kami ya,
Shalatnya jangan pernah tinggal !
Harus rajin belajar !
Makannya jangan telat !
Jaga kesehatannya !
Pokoknya gak boleh nakal ya !

Yakinlah sahabat kami disini selalu merindukan
Sosok-sosok seperti kalian
Sosok yang selalu bertingkah lucu
Sosok yang kadang-kadang buat marah
Sosok yang kadang-kadang bertingkah aneh
Sosok yang kadang-kadang buat jengkel dan sebel
Dan sosok yang udah ajarain kami arti persahabatan dan kasih saying yang tulus

Kita sama-sama
Berjuang dan berdo’a
Untuk kesuksesan kita
Semangat ya sahabat
Yakinlah…
Kita akan bertemu di gerbang kesuksesan
Dan menggapai bintang-bintang
Yang selama ini kita impi-impikan.



         
                                                                                      Padang, 12 Oktober 2013
                                                                                                   By Evi



Saat Tuhan Mempertemukan Kita


Pernah melihat kepompong yang merubah jadi kupu-kupu ? jika belum coba perhatikan! Ini pertama kali aku melihatnya, sempurna. Kupu-kupu kecil  itu sedang berusaha melepaskan diri dari kepompong. Setelah keluar dari kepompongnya, kupu-kupu itu merangkak ke atas sehingga sayapnya yang lemah, kusut, dan agak basah dapat menggantung ke bawah dan mengembang secara normal. Dan setelah sayapnya mengering, dan kuat. Aku melihat kupu-kupu mungil itu membuka dan menutup sayapnya beberapa kali untuk percobaan terbang pertamanya. 

Ini sebuah story tentang sebuah persahabatan. Bukan tentang metamorphosis kupu-kupu hehe. Aku hanya mengibaratkannya dengan kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu. Sebuah persahabatan yang butuh suatu proses untuk menjadi indah.

Pagi yang sejuk, langit tak begitu mendung, cuaca yang cocok untuk kembali tidur. Haha. Dasar pemalas. Hari ini aku tidak ada deadline yang banyak, waktu yang hanya dihabiskan untuk berjalan-jalan  karena tidak ada jam kuliah. 

Aku, Lisna, Tia, Evi, dan Siska. Kami adalah sahabat. Orang sering menyebutnya 5 SERANGKAI. Kenapa begitu ? karena kemanapun kami pergi, kami selalu berlima. Yang namanya sahabat itu, dikala kita susah mereka ada, dikala senang juga ada. Serba ada deh. Ini persahabatan tergokil yang kami lalui. Kami dipertemukan di kota Padang dengan tujuan yang sama, yaitu menuntut ilmu.


Awalnya kami sama sekali tidak saling kenal. Seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”. Pepatah ini benar adanya. Setelah kami saling mengenal, aku jatuh cinta pada mereka. Huaaa . romance banget jadinya. Kami punya karakter yang jauh berbeda. Lisna, yang populer banget dengan kata-kata ITULAH GUEHH, ITULAH KELEBIHAN GUEHH! Evi, yang punya ekspresi selalu heboh, mempopulerkan kata-kata MANAADA (baca manaaddda), Tia, juga tak mau kalah dengan kepopuleran mereka, juga merilis kata-kata EH.. KO LAH EH, KO LAH EH!, Siska yang selalu mengatakan JANGANLAH KEK GITUU (nada rendah, seakan-akan mau menangis), Dedek Ika pengen mie kocok sebelum berangkat! Dan aku yang setiap berbicara sering diprotes oleh Lisna, karena sering banget ngeluarin logat Acehku, AWASIN BEH, SANA BEH, JADI PA UGAK BEH! Hahaha. 

DONE ! dua hari lagi kami lebaran Idul fitri. Banyak banget rencana yang telah kami persiapkan untuk menyambut hari special ini, salah satunya masak rendang ala 5 serangkai, jalan-jalan ke kebun teh, dan masih banyak lainnya. Yah.. walaupun kami nggak pinter-pinter banget masak, tapi bisalah diandalkan dan rasanya pun mampu buat lidah bergoyang. 

Posisi kami sekarang ada di kost masing-masing. Lisna, sahabat sekamar ku yang sudah setahun lebih kami habiskan waktu bersama. Masak bareng, tidur bareng, segala sesuatunya kami lakukan barengan, kecuali mandi ya . hehe. Ia kelihatan masih betah banget di dalam selimut merah kuningnya, aku yang pagi-pagi udah nonton di notebook kesayangan juga masih PW diatas kasur. Tia, sahabat yang asik banget diajak becanda. kami sering membuat kegaduhan dengan tawa yang nyaring, sehingga membuat mereka seakan-akan ingin menyantap hidangan yang lezat. Saat itu, tia sedang mencuci baju. Evi, yang lebih dulu mencuci baju, sekarang sedang menjemur kain.  Siska yang serius banget di depan laptop, diatas kasur plus BB ditangan, tiba-tiba dapat kabar bahwa Ia lulus beasiswa di UPI Bandung. Ekspresinya saat itu bener-bener kacau. Rambut yang acak-acakan dengan wajah yang memprihatinkan. Ini pilihan tersulit ! karena saat itu kami sudah semester tiga dan lagi sibuk-sibuknya Ujian. Evi yang menyaksikan kondisi Siska hanya bisa mengatakan “ehh.... tatek kali itingnya, mau jadi orang Bandung dia”(mengelus-elus rambut keriting Siska) , Tia yang hanya bisa tertawa sambil manggut-manggut memberi kode selamat untuknya membuat Siska jadi semakin galau tingkat dewa.

Aku dan Lisna sama sekali tidak mengerti apa-apa, ketika Siska mengirim foto yang bertuliskan namanya di koran via BBM kami masang muka bengong. Ternyata itu pengumuman kelulusan seleksi beasiswa satu bulan yang lalu kami ikuti. Tanpa basa-basi, aku bergegas menghubungi mama. Dan ternyata.. aku juga lulus. GALAU MEN ! hiksss…

Aku panik, nggak tau harus melakukan apa. Jungkir balik nggak mungkin, teriak-teriak takut dikira orang gila, nangis-nangis juga nggak banget, nyakar Lisna apalagi . ntar takut diaduin ke Pak polisi lagi! yang jelas, hari itu aku ingat banget tanggal dan harinya. Sabtu, 12oktober2013.
Handphone mana handphone!! Aku nelfon mama lagi. Mau nanya gimana dengan sahabat-sahabatku yang lain. TIA juga positif lewat! Ekspresi Tia waktu itu, tak jauh berbeda dari ekspresi kami sebelumnya. BENGONG sambil garuk-garuk kepala! Mimpikah ini ?

Ini SULIT! Pilihan tersulit ! Kalau natap Lisna dan Evi rasanya nggak tega untuk ninggalin mereka. Kenapa kami harus dipisahkan ? sedih banget rasanya. Dan pada akhirnya kami memutusan untuk pindah.
Tinggal satu hari lagi kebersamaan kami di Kota Padang. Artinya, tidak ada tidur bareng, masak bareng, ngerjain tugas bareng, dan semua yang serba bareng. Sulit rasanya untuk melangkah menjauh. Persahabatan kami sedang diuji sekarang. Kami harus berpisah, dan tak tau pasti kapan akan kembali. 

Tuhan..
Engkau mempertemukan ku dengan mereka, dengan satu alasan, menuntut ilmu. Dan kini Engkau juga memisahkan kami dengan alasan yang sama. Tak apa, aku yakin suatu saat Tuhan akan mempertemukan kita lagi. Tidak di kota Padang, namun mungkin di Kota kita masing-masing. Aku sayang kalian. Take care ok ! 

Siang itu, kami mengikuti acara keluarga di Maransi. Sekaligus kami pamitan untuk pindah. Di sini kami punya banyak saudara, kakak-kakak, abang-abang, yang baik-baik semuanya. Perduli dengan kami. Keluarga besar kami diperantauan. Sejenak aku berpikir. Akankah aku akan memiliki keluarga seperti ini lagi di sana ? 

Pulangnya, kami mampir ke sebuah restoran untuk berbuka puasa. Tapi, jelas sekali raut wajah kami tak sebening hari kemarin, yang tidak dihantui dengan sebuah perpisahan. 

Keesokan harinya, jam tiga siang. Kami harus berangkat ke bandara. mereka mau meluangkan waktunya untuk mengantar kami. Mereka adalah teman-teman terbaik, bang indra, bang win, nana, tika dan bang diko pacarnya, rela, dan khususnya Evi dan Lisna.

Chek-in, lalu kami masuk ke ruang tunggu. Karna barang kami terlalu banyak, terpaksa kami harus bergantian turun untuk berjumpa mereka. Siska yang pertama. Setelah itu, aku dan Tia.
Tergambar sebuah perpisahan yang membutuhkan waktu lama untuk berjumpa, membuat kami tak tahan menahan air mata. Kami berpelukan, berpegangan erat. Sampai tiba saatnya kami harus melepaskan genggaman tangan mereka yang erat untuk segera naik ke pesawat.  Tak sempat ku hitung berapa kali sudah kami bersalaman, dan berpelukan.
Aku, Tia, dan mereka melambaikan tangan ….
                                                                                                Bersambung..